Beranda > Fiqih > Utang-Piutag Menurut Islam

Utang-Piutag Menurut Islam

Utang-piutang adalah “Akad yang dilakukan untuk emberikan sesuatu benda atau uang, dengan perjanjian akan dibayar kembali dalam jumlah dan nilai yang sama”.

Utang-piutang merupakan hal yang biasa dalam kehidupan bermasyarakat. Utang-piutang merupakan wujud dari sikap hidup tolong-menolong. Lazimnya, utang-piutang terjadi diantara orang yang memiliki kelonggaran terhadap orang lain yang kebetulan saat itu megalami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu, utang-piutang dipandang sebagai perbuatan terpuji sebagaimana telah islam ajarkan dalam Al-Qur’an yang artinya:

“….dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolon dalam dosa dan permusuhan….” (Q.S. Al-Maidah: 2)

Hukum asal utang-piutang dalah mubah/boleh. Hukumnya dapat berubah-ubah menurut pada tujuan utang-piutang tersebut. Hukumnya menjadi wajib apabila sangat dibutuhkan demi kelagsungan hidup seseorang. Rasulullah bersabda’ yang artinya:

Tidaklah seorang muslim member pinjaman kepada muslim lain dengan dua kali pinjaman, melainkan selain sedekahnya sekali” (H.R. Muslim)

Maksud dari hadist tersebut adalah jika kita memberikan pinjaman kepada muslim lainnya yang membutuhkan sebanyak 2 kali, maka pahala yang kita terima sama dengan kita bersedekah sekali. Orang yang memberikan utang tidak boleh meminta kelebihan dari nilai utangnya. Tetapi, apabila kelebihan pembayaran utang-piutang itu atas kemauan orang yang berhutang sebagai ucapan terima kasih maka diperbolehkan. Sebagaimana Sabda’ Rasulullah SAW yang artinya:

“Nabi SAW. bersabda’: Maka sesungguhnya sebaik-baik kamu, ialah yang paling baik pada waktu membayar utang”. (H.R. Mutafaqun ‘Alaihi)

1. Kewajiban Orang yang Berhutang-Piutang

Orang yang melakukan utang-piutang hendakya melakukan persetujuan Utang-piutang secara tertulis. Persetujuan tersebut disertai tanda terima atau kwitansi yang menyebutkan besarnya utang, tanggal terjadinya utang-piutang, mauun tanggal pengembaliannya. Allah berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu melakukan utang-piutang untuk waktu yang dtentukan maka hendaklah kamu menulisnya….” (Q.S. Al-Baqarah: 282)

Kewajiban orang berutang-piutang selain hal diatas, adalah menghadirkan saksi. Saksi sebaiknya terdiri atas 2 orang laki-laki. Apabila tidak ada 2 orang laki-laki, maka boleh satu orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Allah berfirman yang artinya:

“…. Dan persaksikanlah dengan 2 orang saksi laki-laki (diantaramu), jika tidak ada 2 orang laki-laki, maka boleh seorang laki-laki dan 2 orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu rida’I, agar jika yang seorang lupa maka seorang lagi mengingatnya….” (Q.S. Al-Baqarah: 282)

2.   Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Utang-Piutang

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam utang-piutang, kedua belah pihak perlu memerhatikan hal-hal berikut:

–     Orang yang berhutang wajib mengembalikan utangnya kepada orang yang meminjami utang sesuat dengan perjanian yang telah disepakati bersama. Jika pengutang telah mampu mengembalikan hutangnya sebelum waktu perjanjiannya berakhir, sebaiknya ia segera mngembalikannya. Cara seperti ini dapat menambah kepercayaan pemberi utang kepada pemerima utang.

–     Apabila orang yang berhutang telah berusaha dengan sungguh-sungguh tetapi belum bisa mengembalikan hutangnya, pemberi utang sebaiknya member kelonggaran. Hal ini sesuai dengan tujuan semula, yaitu menolong pihak yang kurang mampu. Apabila keadaan yang berhutang memprihatinkan, akan lebih mulia jika pemberi utang membebaskannya.

–     Walaupun Islam tidak melarang adanya utang-piutang, tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai utang tersebut menyengsarakan diri sendiri. Jika tidak menyangkut urusan penting, sebaiknya kita tidak berhutang. Agar tidak terjerah utang, Rasulullah sering berdo’a yang artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kemalangan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, serta aku berlindung kepada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain”.

Selain berdo’a, kita juga harus pandai memisahkan antara kebutuhan pokok dan kebutuhan sampingan agar tidak terjerat utang karena keperluan sampingan saja.

Kategori:Fiqih Tag:,
  1. 2 Agustus 2013 pukul 6:51 PM

    Quite aside from the value of consuming out as in comparison to eating at dwelling,
    it is really possibly just not practical to dine in a restaurant every
    last single day. Preparation method: Take finely chopped onions
    in a bowl and add yogurt, grated coconut, green chili and
    salt to taste. The final decision to use a roasting method to cook the chicken is a good one because this type of cooking will
    allow us to compose the item in one large single batch and place them on
    sheet pans for the oven.

  2. 18 April 2014 pukul 3:58 AM

    Way cool! Some extremely valid points! I appreciate you writing
    this post and the rest of the site is extremely good.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: